SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL DALAM MEMBENTUK IDENTITAS KOTA MELALUI PERSPEKTIF ARSITEKTUR
Keywords:
identitas kota, budaya lokal,, sejarah kota, arsitektur, globalisasiAbstract
Fenomena globalisasi arsitektur telah memunculkan homogenisasi bentuk dan ruang kota di berbagai wilayah Indonesia. Dalam konteks ini, identitas kota kerap tergerus oleh orientasi modernitas dan komersialisasi visual yang mengabaikan nilai sejarah dan budaya lokal. Artikel ini bertujuan untuk menelaah bagaimana sejarah dan budaya lokal dapat berperan sebagai dasar dalam membentuk identitas kota yang berkelanjutan melalui perspektif arsitektur. Metode yang digunakan bersifat kajian literatur konseptual, dengan menelusuri teori produksi ruang (Lefebvre, 1991), ruang sosial (Castells, 1996), dan konteks budaya arsitektur Indonesia (Rapoport, 1982; Adiyanto, 2023).
Hasil kajian menunjukkan bahwa identitas kota yang berkelanjutan terbentuk melalui integrasi antara nilai sejarah, budaya lokal, dan adaptasi arsitektur terhadap perubahan zaman. Denpasar menjadi contoh kota dengan sistem identitas yang terinstitusionalisasi, sedangkan Kupang menunjukkan bentuk identitas komunal yang tumbuh dari adaptasi sosial dan budaya pesisir. Perbandingan enam kota memperlihatkan tren bahwa semakin kuat integrasi nilai budaya dalam arsitektur, semakin kokoh pula identitas kota di tengah arus globalisasi.
Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan identitas kota tidak hanya bergantung pada bentuk fisik arsitektur, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dan kebijakan ruang untuk menegosiasikan nilai sejarah dan budaya lokal dalam proses modernisasi. Temuan ini memberikan dasar konseptual bagi upaya perancangan kota yang modern, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal.