PERANCANGAN PUSAT PERTUNJUKAN DAN PELATIHAN SENI TARI TRADISIONAL KABUPATEN SUMBA TENGAHDENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR
Keywords:
Arsitektur Neo-Vernakular, Pusat Pertunjukan dan Pelatihan, Seni Tari Tradisional, Sumba Tengah, Perancangan BangunanAbstract
Penelitian perancangan ini bertujuan untuk merancang Pusat Pertunjukan dan Pelatihan Seni Tari Tradisional di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, dengan pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular, sebagai respons atas ketiadaan gedung pertunjukan khusus serta menurunnya partisipasi generasi muda dalam seni tari tradisional. Metode perancangan yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang meliputi tahap identifikasi masalah, pengumpulan data, pengelompokan data, tinjauan lokasi, dan analisis perancangan. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur dan studi preseden pada Taman Budaya Bandung dan Museum Rumah Adat Budaya Sumba Barat. Analisis yang dilakukan meliputi program ruang, kapasitas ruang, hubungan ruang, zonasi, sirkulasi, bentuk massa bangunan, tapak, struktur, dan utilitas. Hasil perancangan menunjukkan bahwa tapak perancangan seluas 20.000 m² (2 hektare) berlokasi di Jalan Umbu Remu Samapaty, Waibakul, dengan total kebutuhan luas bangunan sebesar 5.890,54 m² yang disusun dalam massa bangunan dua lantai dan masih memenuhi ketentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 80% dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 1,7. Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular diwujudkan melalui reinterpretasi bentuk atap Uma Mbatangu, penerapan motif Mamuli pada fasad, perpaduan material kayu lokal dengan beton ekspos dan baja, serta strategi respons iklim berupa ventilasi silang dan overstek atap yang lebar. Temuan ini menunjukkan bahwa rancangan berhasil menghadirkan fasilitas yang representatif bagi kegiatan pertunjukan, pelatihan, dan pelestarian seni tari tradisional Sumba Tengah sekaligus memperkuat identitas budaya lokal